Ciwidey.
Sebuah kecamatan di wilayah selatan Bandung yang terkenal dengan keindahan alamnya. Banyak obyek tujuan wisata yang menarik di daerah ini. Yang paling terkenal adalah Situ Patenggang, sebuah danau alam yang dikelilingi hamparan kebun teh yang hijau memikat, dengan hawa yang sangat sejuk. Pemandangan di sekitar danau ini begitu indahnya, akan membuat siapapun yang memandangnya terasa nyaman dan tenang. Selain Situ Patenggang, Ciwidey masih memiliki obyek wisata lain yang tak kalah bagusnya, seperti Kawah Putih, Gambung, Punceking, Patuha, Cimanggu, Ranca Upas, Walini, Rancasuni, atau Rancabali.
Hari Minggu. Libur sekolah tentunya. Pagi-pagi sekali aku bangun, berbeda dengan hari Minggu lainnya yang biasanya sengaja bangun siang. Aku bangun pagi hari ini karena harus bersiap untuk melakukan suatu perjalanan penting.
Tujuanku hari ini adalah ke Ciwidey. Tapi bukan ke lokasi obyek-obyek wisata di atas.
Pasirjambu. Itulah tepatnya nama daerah di Ciwidey yang akan kutuju. Aku tidak berasal dari keluarga orang berada, sehingga perjalanan dari kota Bandung ke Pasirjambu harus kulakukan dengan angkutan umum, tepatnya 4 kali naik angkutan umum dari rumahku yang ada di kota Bandung, tidak terlalu jauh dari Simpang Dago.
Ini adalah perjalanan pertamaku ke Ciwidey, dan kulakukan demi menemui seseorang yang sering berkirim salam untukku lewat acara di radio. Pada suatu ketika kuberanikan diri untuk mengirim ucapan salam untuknya -- lewat radio juga tentunya -- dan menanyakan secara langsung di acara tersebut apakah aku boleh mendapatkan alamatnya. Ternyata gayung bersambut saat itu sehingga akupun mengirimkan surat secara langsung ke alamat rumahnya. Pasirjambu. Tak akan bosan rasanya aku mengucapkan kata Pasirjambu, karena di sanalah terdapat seseorang yang akan banyak mewarnai kehidupanku berikutnya.
Aku menggunakan alamat sekolah sebagai alamat yang kuberikan kepada Elly, dan dia membalas suratku, menyambut hangat perkenalan yang kutawarkan, bercerita tentang siapa dirinya, sebatas hanya tentang dia anak bungsu dari 5 bersaudara, anak dari pasangan haji petani di wilayah Pasirjambu, sekolah di SMP Pasirjambu -- 1 tingkat di bawahku -- dan hal-hal lain yang bersifat umum.
Meskipun aku menggunakan alamat sekolah, tapi nama yang kuberikan padanya tetap nama samaran yang kugunakan di radio. Tapi suratnya tetap sampai ke tanganku karena petugas pembagi surat di sekolah hanya menyimpannya di suatu tempat yang bisa diambil secara langsung, di dekat lokasi mading atau majalah dinding sekolah.
Aku masih ingat dengan kejadian pada saat surat ketiga darinya sampai di sekolah. Sekali lagi, sampai di sekolah, berarti belum sampai ke tanganku. Siang itu ada pengumuman yang dikumandangkan lewat pengeras suara ke seluruh area sekolah, yang isinya memanggil seseorang dengan nama Freddy Ramayana Tanuwidjaja agar menghadap ke ruang guru segera. Tentu saja semua orang heran, kecuali aku, karena di sekolahku tidak ada satupun murid dengan nama tersebut. Tapi beberapa teman sekelas langsung memandang ke arahku karena namaku adalah Fajar Tanuwidjaja, dengan nama belakang yang sama dengan siswa yang dipanggil tersebut.
Akupun datang ke ruangan para guru dan menghadap ke salah seorang guru yang dulu sempat mengajar Bahasa Indonesia di kelasku sewaktu masih kelas 1, berarti 2 tahun yang lalu. Guru tersebut adalah Ibu Nina. Orangnya masih cukup muda dibandingkan dengan guru-guru lainnya, ramah dan baik hati. Terlebih padaku, terutama sekali setelah pada suatu saat aku mengoreksi tulisan di buku pelajaran yang dijadikan bahan utama pelajarannya karena ada kesalahan mendasar mengenai aturan pengucapan huruf vocal di antara konsonan. Ibu Nina dengan segera menanyakan apakah surat itu ditujukan untukku dan mengapa namanya berbeda dengan nama asliku yang tercatat di dalam administrasi sekolah. Akhirnya kujelaskan semua tentang acara di radio, perkenalan, dan lain-lain sampai akhirnya dia mengerti dan menyerahkan surat itu padaku. Segera, masih di depan Ibu Nina, aku membuka surat tersebut. Dan ternyata... ada sisipan fotonya! Dengan segera setelah itu aku mengucapkan terima kasih pada Ibu Nina dan beranjak pergi menjauh ke suatu tempat di mana aku bisa melihat foto tersebut sendirian.
Masya Allah... cantik sekali kau Elly.... sungguh jauh melebihi apa yang selama ini aku bayangkan tentang kamu. Tentu saja selama ini aku membayangkan bahwa seseorang bernama Elly yang berada di Pasirjambu, Ciwidey sana adalah seorang gadis yang cantik, lembut, sederhana, khas seorang gadis kampung yang masih sangat lugu. Tetapi apa yang kulihat di foto adalah sangat jauh di atas semua itu. Kau memang nampak lugu, lembut, dan manis, tapi kecantikanmu sungguh luar biasa. Aku terpana sangat lama memandangi foto tersebut sampai kudengar suara beberapa orang teman memanggilku. Segera aku masukkan surat dan fotonya ke kantong celanaku dan menghampiri teman-temanku untuk masuk ke dalam kelas dan mengambil tasku serta berjalan pulang bersama mereka.
Sebuah kecamatan di wilayah selatan Bandung yang terkenal dengan keindahan alamnya. Banyak obyek tujuan wisata yang menarik di daerah ini. Yang paling terkenal adalah Situ Patenggang, sebuah danau alam yang dikelilingi hamparan kebun teh yang hijau memikat, dengan hawa yang sangat sejuk. Pemandangan di sekitar danau ini begitu indahnya, akan membuat siapapun yang memandangnya terasa nyaman dan tenang. Selain Situ Patenggang, Ciwidey masih memiliki obyek wisata lain yang tak kalah bagusnya, seperti Kawah Putih, Gambung, Punceking, Patuha, Cimanggu, Ranca Upas, Walini, Rancasuni, atau Rancabali.
Hari Minggu. Libur sekolah tentunya. Pagi-pagi sekali aku bangun, berbeda dengan hari Minggu lainnya yang biasanya sengaja bangun siang. Aku bangun pagi hari ini karena harus bersiap untuk melakukan suatu perjalanan penting.
Tujuanku hari ini adalah ke Ciwidey. Tapi bukan ke lokasi obyek-obyek wisata di atas.
Pasirjambu. Itulah tepatnya nama daerah di Ciwidey yang akan kutuju. Aku tidak berasal dari keluarga orang berada, sehingga perjalanan dari kota Bandung ke Pasirjambu harus kulakukan dengan angkutan umum, tepatnya 4 kali naik angkutan umum dari rumahku yang ada di kota Bandung, tidak terlalu jauh dari Simpang Dago.
Ini adalah perjalanan pertamaku ke Ciwidey, dan kulakukan demi menemui seseorang yang sering berkirim salam untukku lewat acara di radio. Pada suatu ketika kuberanikan diri untuk mengirim ucapan salam untuknya -- lewat radio juga tentunya -- dan menanyakan secara langsung di acara tersebut apakah aku boleh mendapatkan alamatnya. Ternyata gayung bersambut saat itu sehingga akupun mengirimkan surat secara langsung ke alamat rumahnya. Pasirjambu. Tak akan bosan rasanya aku mengucapkan kata Pasirjambu, karena di sanalah terdapat seseorang yang akan banyak mewarnai kehidupanku berikutnya.
Aku menggunakan alamat sekolah sebagai alamat yang kuberikan kepada Elly, dan dia membalas suratku, menyambut hangat perkenalan yang kutawarkan, bercerita tentang siapa dirinya, sebatas hanya tentang dia anak bungsu dari 5 bersaudara, anak dari pasangan haji petani di wilayah Pasirjambu, sekolah di SMP Pasirjambu -- 1 tingkat di bawahku -- dan hal-hal lain yang bersifat umum.
Meskipun aku menggunakan alamat sekolah, tapi nama yang kuberikan padanya tetap nama samaran yang kugunakan di radio. Tapi suratnya tetap sampai ke tanganku karena petugas pembagi surat di sekolah hanya menyimpannya di suatu tempat yang bisa diambil secara langsung, di dekat lokasi mading atau majalah dinding sekolah.
Aku masih ingat dengan kejadian pada saat surat ketiga darinya sampai di sekolah. Sekali lagi, sampai di sekolah, berarti belum sampai ke tanganku. Siang itu ada pengumuman yang dikumandangkan lewat pengeras suara ke seluruh area sekolah, yang isinya memanggil seseorang dengan nama Freddy Ramayana Tanuwidjaja agar menghadap ke ruang guru segera. Tentu saja semua orang heran, kecuali aku, karena di sekolahku tidak ada satupun murid dengan nama tersebut. Tapi beberapa teman sekelas langsung memandang ke arahku karena namaku adalah Fajar Tanuwidjaja, dengan nama belakang yang sama dengan siswa yang dipanggil tersebut.
Akupun datang ke ruangan para guru dan menghadap ke salah seorang guru yang dulu sempat mengajar Bahasa Indonesia di kelasku sewaktu masih kelas 1, berarti 2 tahun yang lalu. Guru tersebut adalah Ibu Nina. Orangnya masih cukup muda dibandingkan dengan guru-guru lainnya, ramah dan baik hati. Terlebih padaku, terutama sekali setelah pada suatu saat aku mengoreksi tulisan di buku pelajaran yang dijadikan bahan utama pelajarannya karena ada kesalahan mendasar mengenai aturan pengucapan huruf vocal di antara konsonan. Ibu Nina dengan segera menanyakan apakah surat itu ditujukan untukku dan mengapa namanya berbeda dengan nama asliku yang tercatat di dalam administrasi sekolah. Akhirnya kujelaskan semua tentang acara di radio, perkenalan, dan lain-lain sampai akhirnya dia mengerti dan menyerahkan surat itu padaku. Segera, masih di depan Ibu Nina, aku membuka surat tersebut. Dan ternyata... ada sisipan fotonya! Dengan segera setelah itu aku mengucapkan terima kasih pada Ibu Nina dan beranjak pergi menjauh ke suatu tempat di mana aku bisa melihat foto tersebut sendirian.
Masya Allah... cantik sekali kau Elly.... sungguh jauh melebihi apa yang selama ini aku bayangkan tentang kamu. Tentu saja selama ini aku membayangkan bahwa seseorang bernama Elly yang berada di Pasirjambu, Ciwidey sana adalah seorang gadis yang cantik, lembut, sederhana, khas seorang gadis kampung yang masih sangat lugu. Tetapi apa yang kulihat di foto adalah sangat jauh di atas semua itu. Kau memang nampak lugu, lembut, dan manis, tapi kecantikanmu sungguh luar biasa. Aku terpana sangat lama memandangi foto tersebut sampai kudengar suara beberapa orang teman memanggilku. Segera aku masukkan surat dan fotonya ke kantong celanaku dan menghampiri teman-temanku untuk masuk ke dalam kelas dan mengambil tasku serta berjalan pulang bersama mereka.